Saya mendapatkan buku ini di training kantor yang diselanggarakan oleh Talk Inc. Di training tersebut kita diajarkan tentang elevator pitch, dimana kita belajar untuk grab attention, deliver inti nya, dan mendapatkan call-to-action dalam waktu yang sangat singkat se akan-akan kita cuma ada waktu ngomong di dalam durasi naik elevator.
Setelah pelajaran teori, kamipun di latih untuk langsung mempraktekan semua ilmu yang kita baru saja pelajari, dan bikin skenario elevator pitch dalam waktu maksimal 4 menit. Di training tersebut tim 3-orang saya yang menjadi juara nya, dengan elevator pitch selama 1 menit 56 detik. Bukan karena kita yang paling hebat, tetapi kita yang paling mendapatkan manfaat dari training ini, dan terrefleksi di dalam pemahaman kita.
Dan yang juara mendapatkan apa? Kita memenangkan buku ini, yang ditulis oleh Erwin Parengkuan, ahli komunikasi yang sudah berpengalaman lebih dari 30 tahun dan founder Talk Inc.
Menurut Erwin, “Memahami kepribadian orang lain dan melihat bagaimana mereka bereaksi terhadap satu informasi menjadi ilmu inti dari semua profesi. Profesi apapun yang anda jalani, percayalah, mengenali kepribadian dan gaya komunikasi seseorang akan memudahkan anda dalam berhubungan dengan orang lain.”
Erwin percaya bahwa kemampuan kita dalam mengenali gaya komunikasi yang ber beda-beda pada setiap kepribadian akan membuat kita menjadi orang yang lebih toleran dan tidak gampang menghakimi: Mengapa seorang ibu bisa memiliki gaya komunikasi yang keras, bagaimana seseorang bisa sangat sabar, atau suka melakukan kesenangan yang mengganggu orang lain, dll.
Erwin lalu menambahkan, “Dengan kondisi dunia saat ini yang serba-terhubung satu sama lain dengan begitu “hyper-connected”, yang terjadi justru komunikasi sering kali bersifat satu arah. Orang menjadi tidak terlalu peduli apakah lawan bicaranya mengerti dan memahami apa yang disampaikan karena banyak orang melakukan komunikasi tanpa membangun relasi. Pada akhirnya, meskipun proses komunikasi berjalan normal, tetap tidak berjalan maksimal dan sangat mungkin hasilnya meleset dari apa yang diharapkan. Bahkan proses konfirmasi atau feedback bisa berjalan bolak-balik sehingga menghabiskan waktu dan tenaga. Semua proses ini justru bisa dipangkas ketika kita memahami kepribadian kita dan lawan bicara kita dalam berkomunikasi.”
Jadi apa saja tipe-tipe gaya komunikasi? Erwin membedakan nya menjadi 4: si gesit, si kuat, si rinci, dan si damai.
- Si gesit: senang berbicara, antusias, membujuk, kreatif, jiwa sosial, penuh energi, narsistik, spontan, mempesona, sensitif, komunikatif, imajinatif, rileks. Kepribadian ini lebih cenderung extrovert yang menggunakan perasaan.
- Si kuat: agresif, ambisius, keinginan kuat, orientasi pada hasil, pemecah masalah, tidak sabar, pemegang kontrol, pionir, inovator, meyakinkan, cepat, bicara terus terang, mandiri. Kepribadian ini lebih cenderung extrovert yang menggunakan pemikiran.
- Si rinci: teliti, sistematis, menjaga jarak, orientasi pada kebenaran, terlihat kurang percaya diri, perfeksionis, butuh waktu, objektif, analisis, refleksi, mengikuti aturan, evaluasi, pendiam. Kepribadian ini lebih cenderung introvert yang menggunakan pemikiran.
- Si damai: sabar, santai, menguasai diri sendiri, dapat diandalkan, setia, stabil, bijaksana, sederhana, bertele-tele, berhati-hati, tekun, empati, baik. Kepribadian ini lebih cenderung introvert yang menggunakan perasaan.
Dan di perjalanan membantu orang untuk menemukan potensi terbaik nya, hal yang yang paling bagus adalah untuk membuat ke 4 tipe ini muncul secara seimbang pada situasi yang dibutuhkan.
Bagaimana cara nya? Pertama dengan mengenali diri sendiri. Seperti yang Erwin jelaskan, “tidak ada kepribadian yang lebih baik dari yang lain nya. Semua memiliki sisi terang (sunny side) dan sisi gelap (shadow side), tergantung dari kematangan diri seseorang.”
Dan kedua, mengubah kekurangan yang kita punya sehingga menjadi kelebihan unik kita. “Cara nya mudah”, menurut Erwin, “mulai sekarang, berpikirlah dengan cara berpikir lawan bicara anda.” Karena dengan cara ini kita tidak lagi mengedepankan ego, tetapi membuat kita untuk lebih terbuka dan kompromistis.
Buku ini lalu menjelaskan segala sesuatu nya dengan lebih detail, termasuk penjabaran 12 campuran kepribadian, penjelasan bagaimana karakter genetik sulit untuk diubah tetapi bisa dikendalikan, bagaimana perilaku seseorang akan menentukan sikap yang akan dilakukan selanjutnya, tantangan-tantangan di era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity), penting nya inovasi dan kemampuan ber adaptasi di era VUCA, penting nya mengkontrol indentitas kita untuk tetap kecil (sehingga bisa flexibel di dalam perubahan), bagaimana caranya menyelaraskan self-image dan social-image, bagaimana perubahan yang signifikan berasal dari perubahan pola yang baru, dan masih banyak lagi; termasuk analisa dari 5 skill yang penting: problem solving (si kuat), critical thinking (si rinci), creative thinking (si gesit), building relationship (si damai), collaboration dari semua nya (balance).
Untuk buku yang hanya 134 halaman, tulisan Erwin Parengkuan ini sangat lengkap sekali dengan informasi terpenting dalam hal komunikasi. Dan dari sini Erwin menunjukan bahwa skill komunikasi sangat bisa di latih, sesuai dengan kepribadian asli kita masing-masing tanpa harus memaksakan perubahan yang kita tidak nyaman. Sehingga kepribadian yang extrovert bisa berkomunikasi lebih tenang dengan individu yang introvert menggunakan empati, dan kepribadian introvert juga bisa membawa diri dengan baik di lingkungan extrovert; menciptakan kepribadian “balanced”, ambivert.